Catatan Terakhir Untuk SEMAKBELUKAR

SEMAKBELUKAR (Illustration by RACUNCINTA)

(artwork oleh Racun Cinta)

SEMAKBELUKAR, Sebuah Catatan Terakhir..

Skena musik alternatif tiap daerah pasti memiliki karakter tersendiri, begitu pula entitas musikal yang ada di dalamnya. Berbicara tentang Palembang, SEMAKBELUKAR adalah sebuah entitas musikal alternatif yang unik nan ajaib dari Bumi Sriwijaya. Lahir di tahun 2009 lalu, tak seperti kebanyakan grup “folk” lokal masa kini yang memilih musik mancanegara sebagai referensi maka dengan berani SEMAKBELUKAR menjadikan musik tradisional Melayu sebagai pondasi kreasi musiknya. Hasil buah ilham dari David Hersya ini musiknya bisa dibilang “tanpa teman” diantara koleganya di skena musik alternatif lokal Palembang. Penuh kesederhanaan tanpa berusaha menjadi avant garde; namun sarat makna dalam syair indah yang sedikit banyak berpegang pada gaya sastra Melayu lama.

Berproses dengan catatan diskografi Semoga Kita Mati Dalam Iman (2009), Mekar Mewangi (2009), singel “Sayang Selayak” (2012) -versi gubahan dari lagu rakyat tradisi Lahat, Sumatera Selatan-, Drohaka (2012) dan Semak Belukar (2013). SEMAKBELUKAR bermain dengan rumus Melayu kontemporer minimalis dan lirik yang indah, adalah karakter vokal nasal David Hersya -yang mampu meliuk bak seorang Muadzin- kekuatan khas berwarna Melayu. Melantunkan rima dan syair yang bernilai spiritual yang mendalam.

Namun, hidup adalah alpha dan omega, selalu ada akhir dari setiap awal dalam daur kehidupan. Begitu pula yang terjadi dengan SEMAKBELUKAR, sebuah kolektif musik alterna folk melayu dari Palembang. Ketika mata dan telinga antusias musik di luar Palembang mulai terbuka akan eksistensi grup itu, SEMAKBELUKAR mundur dari atas keriuhan panggung dan puja-puji dengan memutuskan untuk membubarkan diri.

Kehadirannya telah memberi warna dengan penuh kejujuran tanpa berusaha menunggangi arus gelombang tren folk revivalist di Indonesia, SEMAKBELUKAR seolah menjadi tendangan pantat pengingat akan skena musik folk lokal seharusnya berani menggali lebih dalam dari musik tradisi rakyat negeri sendiri. Bukan sebagai nasionalisme buta tapi tanah yang diinjak dan langit yang dijunjung dengan penuh rasa dan kesederhanaan.

Tapi apa yang kita cintai akan kita tinggalkan, Palembang kehilangan satu aksi musik avant garde-nya dengan bubarnya SEMAKBELUKAR. Namun karyanya akan selalu dikenang sebagai bagian dari khasanah budaya kontemporer Palembang yang kaya dengan nilai preservasi tradisi melayu.

Tabik!

Ba9gKIJCcAACmEd-by aga_ridwan

Ba9sCHcCEAAUhrK

Instrumen yang dihancurkan oleh para kolaborator SEMAKBELUKAR sebagai penanda akhir dan bubarnya kolektif musik tersebut di showcase “Dendang Petang” yang diadakan oleh Elevation Records di Kineruku, Bandung pada sore Minggu, 8 Agustus 2013.

Baca ulasan show terakhirnya,

“SEMAKBELUKAR Tiada, Musiknya Masih Bernyawa” oleh Anwar Holid (Jakarta Beat)

“Akhir Yang Sempurna Bagi SEMAKBELUKAR” (Elevation Records)

++++

0a0ad529e93f57f85e15802b10ac6d71_L

(photo by Obay Minoral)

Pada tahun 2012 kolaborator vokal ((AUMAN)), Farid Amriansyah, sempat melakukan wawancara untuk press release album Drohaka. Berikut wawancaranya dengan DAVID HERSYA, otak di belakang aksi alterna-folk melayu dari Palembang, Sumatera Selatan, SEMAKBELUKAR.

Langsung saja , siapa itu SEMAKBELUKAR?

SEMAKBELUKAR adalah nama untuk sebuah proyek eksperimen musik tradisi yang lahir di Palembang, Sumatera Selatan di awal  tahun 2009.

Bisa ceritakan kisah tentang asal muasal ilham yang melahirkan SEMAKBELUKAR hingga terus bergulir sampai sekarang?

Awalnya SEMAKBELUKAR lahir sebagai sebuah bentuk pendokumentasian ide dan fikiran yang menjadi sampah karya pribadi.  Karena dorongan dari beberapa teman yang “gatal” hatinya, maka SEMAKBELUKAR akhirnya menjadi sampah publik 🙂

Pertanyaan klasik, apa makna nama SEMAKBELUKAR?

Keberadaannya dirasa sangat menggangu dan berkesan tiada manfaat.  Tetapi sadar atau tidak, tanpa kehadiran semak belukar, niscaya bunga-bunga takkan terlihat indah. 

Dengan nuansa irama tradisi Melayu yang kental terasa, secara musi SEMAKBELUKAR termasuk folk music, tapi diantara grup folk lokal masa kini yang berkiblat ke Barat, kenapa SEMAKBELUKAR malah memilih musik tradisi melayu Sumatera?

Kami hanya tidak ingin membohongi diri sendiri. Dimana kaki berpijak di situ langit dijunjung.  Ada kecemburuan terhadap keberlangsungan musik tradisi Nusantara lainnya seperti Jawa dan Bali misalnya yang tetap lestari dan tidak pernah sepi dari kreatifitas para pewarisnya.  Sangat berbeda dengan musik tradisi Melayu terutama di Sumatera Selatan atau Palembang pada khususnya yang memang tetap lestari tetapi sangat sepi dari kreatifitas para pewarisnya.  Perkembangan musik di Nusantara (Indonesia khususnya) yang telah begitu maju oleh gempuran pengaruh dan gaya musik barat ternyata tidak ikut mendorong musik tradisi Melayu untuk ikut berkembang maju bersama-sama, sehingga ciptaan baru pada lagu dan musik tradisi Melayu tidak lahir. Padahal kreativitas musisi musik Melayu bisa saja bertolak dari musik tradisi, sebagian atau sepenuhnya, dan menggunakan teknik komposisi musik Barat. Usaha demikian barangkali dapat membuahkan perspektif baru dalam dunia penciptaan.  Atas dasar pemikiran itulah kami memilih untuk tetap berada di tempat yang semestinya kami berada. 

Walau sekarang agak tergeser oleh aksi boyband dan girlband, musik band pop lokal sempat memberi semacam stigma tidak mengenakkan akan terma “Melayu”, bagaimana SEMAKBELUKAR menyikapi fenomena itu?

Kami telah banyak mendengar berbagai pernyataan cerdas tetapi cenderung berbau emosi dari para intelektual, baik itu pelaku atau penikmat musik itu sendiri.  Kami berharap teman-teman kami yang cerdas dan yang berwawasan luas bisa untuk sedikit bijak meluangkan waktu mengkaji secara objektif dan mendalam tentang Melayu dalam tradisi dan budayanya, sehingga bisa memberikan sebuah pernyataan dalam pandangan yang tidak hanya cerdas tetapi juga mencerdaskan.  Sehingga tidak perlu lagi ada kekeliruan yang melahirkan stigma menghakimi Melayu sebagai sebuah kehinaan.  Dan untuk musik yang diusung oleh band pop fenomenal yang sempat begitu mengusik dunia para musisi cerdas tersebut sangatlah jauh dari tradisi dan budaya Melayu yang sebenarnya.  Mendayu dan nada minor tidak bisa dijadikan alasan untuk menyebut mereka sebagai sebuah band yang mengusung musik Melayu.  Bagi kami, mereka tetaplah band populer dengan musik pop mereka yang bisa memberikan hiburan pada rakyat dan kami menghargai itu. 

Musik SEMAKBELUKAR bisa dibilang kontemporer, bagaimana dengan musik tradisi Melayu sekarang? Bagaimana nasibnya?

Hanya terabaikan, tidak dilupakan.  Yang pasti, musik tradisi Melayu tidak bernasib mujur seperti seni tarinya yang begitu terpelihara.  Mungkin, belum berlapang hatinya masyarakat dan para Pemuka Adat Melayu untuk bisa menerima estetika dan nilai artistik dalam karya-karya baru yang terlepas dari nilai-nilai lama atau berbeda dari yang selama ini didengar atau dilihat juga merupakan penyebab masih terpuruknya musik tradisi Melayu.  Seperti eksperimen yang kami lakukan, juga merupakan perwujudan ekspresi baru dan merupakan sumbangan bagi khazanah dan perbendaharaan repertoar musik atau bahkan gerak tari tradisi Melayu Nusantara.

Apa ada semacam misi ambisius SEMAKBELUKAR untuk menggenjot ketertarikan akan musik tradisi Melayu?

Waduh, ga ada kayaknya. Bermusik ini pun kebih kepada aktuasi cipta rasa personal tanpa berharap berdampak masif.

Okay, kembali ke kreasi. Bisa ceritakan akan mini album kalian dan rilisan lainnya?

Sampai sekarang, ada dua mini album yang telah dirilis di tahun 2009.  Yang pertama adalah “Semoga Kita Mati Dalam Iman” berisikan 5 buah lagu dan yang kedua bertajuk “Mekar Mewangi” yang berisi 6 buah lagu.  Kedua album tersebut sebenarnya dirilis masih dengan nama BELUKAR.  Karena suatu hal yang klasik dan juga berkembangnya bermacam ide dan fikiran, maka perubahan nama pun dilakukan pada awal tahun 2010 sehingga menjadi seperti sekarang ini yaitu SEMAKBELUKAR.  Hal itu ditandai dengan merilis satu lagu yang ada di mini album pertama sebagai singgle yang berjudul DetikMenitJamHariBulanTahun dengan aransemen baru.  Setelah itu beberapa single juga sempat dirilis.

Dan sekarang pembuatan album terbaru bertajuk Drohaka  masih dalam proses pengerjaan dan belum bisa dipastikan kapan tepatnya akan dirilis.

Jujur selain musiknya, saya sangat tertarik dengan syair lirik SEMAKBELUKAR yang sedikit banyak  kental dengan nilai-nilai sosial dengan nafas relijius yang tersirat halus. Bisa dicerahkan akan ilham tematik dari liriknya?

Semua syair dan lirik adalah rangkuman dari hasil pemikiran dan perenungan yang bersifat subyektif dari berbagai kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang ditulis sebagai sebuah pembelajaran pribadi, tanpa ada maksud untuk menggurui siapa pun.  Kebudayaan Melayu yang memang begitu kental dan syarat akan nilai keagamaan memang menjadi sebuah acuan bagi SEMAKBELUKAR dalam proses pembuatan lirik.  Tetapi perlu kami tekankan, bahwa syair dalam lirik yang kami gubah tidak menitikberatkan pada eksistensi agama, melainkan pada esensi nilai dan norma yang terkandung dalam kebudayaan dan tradisi bangsa Melayu yang sangat relijius.

SEMAKBELUKAR sempat menggubah ulang lagu tradisi asli Sumatera Selatan, bisa ceritain? Ada alasan khusus kenapa?

Sebuah lagu rakyat dari daerah Lahat, Sumatera Selatan berjudul Sayang Selayak.  Tidak ada alasan khusus sebenarnya.  Hanya saja kami merasa begitu senang mendengar lagu ini.  Nada dan iramanya yang begitu khas begitu menggoda untuk kami aransemen ulang dengan lebih sederhana.  Mungkin saja bisa mengobati kerinduan akan kampung halaman bagi teman-teman dari Sumatera dan Sumatera Selatan khususnya yang sedang jauh dirantau.

Jarang anak muda sekarang yang melirik musik tradisi sebagai pondasi kreasi musiknya, bagaimana SEMAKBELUKAR berharap bisa mencuri perhatian paramuda?

Sayangnya, musik tradisi dipandang hanya sebagai musik purba. 

Sepertinya paramuda akan tetap menyakralkan kemoderenan, pun juga sebaliknya, Paratua akan tetap menyakralkan kekunoan. Semoga keadaan ini bisa berubah.

Dan bagaimana SEMAKBELUKAR memposisikan diri di tengah komunitas musik alternatif di Palembang dengan keberadaan kalian yang sangat alternatif dari alternatif yang ada?

Kami tetap memposisikan diri sebagai sebuah pilihan, sama seperti teman-teman pemusik lainnya di Palembang.  Yang pasti kami yakini adalah bahwa, kehadiran kami di komunitas musik Palembang khususnya, telah memperjelas kualitas para pemusik lainnya di Palembang dengan karya mereka yang begitu luar biasa.  Seperti makna dalam nama SEMAKBELUKAR, tanpa keberadaan semak belukar maka bunga takkan terlihat indah.  Tanpa kehadiran kami, kualitas karya dari para pemusik lainnya di Palembang tidak akan terbilang hebat 🙂

Apa rencana atau target yang sedang disiapkan SEMAKBELUKAR sekarang?

Selain merilis album terbaru, kami masih berusaha untuk mencari atau bahkan membangun sendiri panggung yang benar dan tepat untuk melakukan persembahan karya kami .

Oya, apa itu “Belukaria Orkestar”?

Biar pun terluka dan berdarah ketika pilihan kami jatuh untuk tetap memegang semak belukar yang berduri, kami tetap bersuka ria. Walau berluka tetaplah bersuka ria 🙂 Berlukaria memainkan Orkes. Belukaria Orkestar 😀

Kembali ke misi, apa harapan besar SEMAKBELUKAR?

Adalah sebuah harapan untuk terus bisa berharap.  karena hanya itu yang kita punya ketika kita berada dalam keterpurukan dan diambang kehancuran.  (Hehehee…)

Pesan kepada mereka yang mendengarkan SEMAKBELUKAR?

“Tidak seperti yang kalian kira, kami hanyalah duri.  Boleh kalian lihat, hindari, pegang atau simpan, boleh juga kalian patahkan, injak dan buang jauh. Sila pilih secara bijak.”

Semoga SEMAKBELUKAR selalu diberi keberkahan..

Aamiin!

Baca juga:

Wawancara Jakarta Beat “Seloka Marah SEMAKBELUKAR”

Wawancara Majalah Cobra “David Hersya: Inti dari kesemua tema SEMAKBELUKAR adalah persiapan untuk mati”

++++

DISKOGRAFI

Bakcq4RCEAAEsPe.jpg-large

  • Semak Belukar (Elevation, 2013) available in vinyl, CD and cassettes for order contact elevation1977@gmail.com

Bakg5SBCUAANOOi.jpg-large

VIDEOS

“Salam”

“Be(re)ncana”

Link untuk “Malasmarah” music video

Belukar #1

“Sejuknya Matahari” dan “Lebah” Live at #AMNGIGS12 di Jakarta (2012)

“Mekar Mewangi” Live at #AMNGIGS12 di Jakarta (2012)

“Malasmarah” Live at #AMNGIGS12 di Jakarta (2012)

AUDIO

Advertisements

About ((AUMAN))

Kolaborator ((AUMAN)) adalah Zarbin Sulaiman (bass) Aulia Effendy (drums) Erwin Wijaya (gitar) Farid Amriansyah (vokal) Ahmad Ruliansyah (gitar) Band Contacts: Rian +6281273498132 (Sumatra) Tata +6281287688355 (Luar Sumatra) aumanrimau@yahoo.com www.reverbnation.com/AUMAN www.myspace.com/aumanrimau www.twitter.com/AUMANRIMAU
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s